Aku sedang ada di masa jeda. Bukan jeda yang kurencanakan, bukan pula liburan yang kutunggu-tunggu. Tapi masa kosong yang muncul karena aku sedang menanti—menunggu hasil seleksi Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan magang. Istilah kasarnya sih: “nganggur sementara.” Tapi sebenarnya, kepala dan hati nggak pernah benar-benar istirahat.
Pagi hari terasa lebih lambat dari biasanya. Tak ada kelas yang harus dikejar, tak ada deadline tugas mingguan, dan tak ada juga grup WhatsApp yang ramai dengan diskusi soal presentasi. Hening. Tapi bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang bikin overthinking.
"Udah ada pengumuman belum, ya?"
"Kalau nggak lolos, aku harus ngapain setelah ini?"
"Apa aku kurang aktif, ya waktu daftar kemarin?"
Semua pertanyaan itu mondar-mandir di kepala hampir tiap malam. Aku tahu aku bukan satu-satunya yang merasakannya, karena banyak temanku juga berada di fase ini—tergantung antara harapan dan ketidakpastian.
Tapi dari masa tunggu ini, aku juga belajar sesuatu: bahwa masa "nganggur" bukan berarti berhenti. Aku mulai menyentuh hal-hal yang selama ini tertunda. Baca buku yang sudah berdebu di rak. Coba-coba nulis blog lagi (seperti sekarang ini!). Bahkan aku sempat ngedit video-video lama yang dulu cuma numpuk di galeri.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa masa menunggu ini terasa begitu panjang? Mungkin karena kita hidup di era serba cepat, dan jeda dianggap sebagai “kemunduran.” Padahal, bisa jadi ini momen untuk mengatur ulang napas, untuk menyusun ulang rencana.
Aku tahu, hasil seleksi KKN dan magang akan datang pada waktunya. Entah nanti aku akan mengepak ransel menuju desa yang asing atau masuk ke ruang kerja sebagai anak magang—yang jelas, aku ingin tiba di sana sebagai versi diriku yang lebih siap.
Jadi, buat kamu yang sedang di fase menunggu juga, ini bukan akhir. Ini cuma transisi. Nikmati, hadapi, dan jangan lupa: istirahat bukan berarti gagal. Kadang, justru dari waktu-waktu kosong seperti inilah kita menemukan diri kita yang sebenarnya.
Kalau kamu juga sedang nunggu hasil seleksi dan merasa bingung harus ngapain, mungkin kita bisa saling berbagi cerita. Drop di kolom komentar ya! Siapa tahu, dari cerita yang kamu bagi, aku (dan pembaca lainnya) bisa ikut belajar dan merasa tidak sendirian.
Comments
Post a Comment